10 Orang terpintar di Indonesia yang mayoritas dihormati didunia, tetapi disepelekan(diminoritaskan)dinegara sendiri
1. March Boedihardjo
HONG KONG – Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU).
March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika.
Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun(dari 2007).
Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya. ”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 Tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya.
March memang menempuh pendidikan menengah di Inggris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua Tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu.
Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik.
Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut.
2. Prof Nelson Tansu, PhD- Pakar Teknologi Nano (Photonya yang Tengah)
Pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur nano.
Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan Sinar Laser dengan listrik superhemat. Sementara Sinar Laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt.
Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika.
Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka. "Apakah tragedi orang tuanya membikin Nelson benci terhadap Indonesia dan membuatnya ingin beralih kewarganegaraan?" "Tidak. Hati Saya tetap melekat dengan Indonesia," katanya kepada Tempo. Nelson bercerita, sampai kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia.
Jawaban Nelson mengharukan. Nelson adalah aset kita.
3. Muhammad Arief Budiman : MERAH-Putih DI SAINT LOUIS
Saint Louis, Missouri, Amerika Serikat...
Di sebuah ruang kerja di kompleks Orion Genomic, salah satu perusahaan riset bioteknologi terkemuka di negeri itu, seorang lelaki Jawa berwajah "dagadu"—sebab senyum tak pernah lepas dari bibirnya—kerap terlihat sedang salat.
anak pekerja pabrik tekstil GKBI itu sekarang menjadi motor riset utama di Orion. Jabatannya: Kepala Library Technologies Group. Menurut BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam eksekutif kunci perusahaan genetika itu.
Genetika adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari gen, pembawa sifat pada makhluk hidup. Peran ilmu ini bakal makin sentral di masa depan: dalam peperangan melawan penyakit, rehabilitasi lingkungan, hingga menjawab kebutu*an pangan dunia.
Arief tak hanya terpandang di perusahaannya. Namanya juga moncer di antara sejawatnya di negara yang menjadi pusat pengembangan ilmu tersebut: menjadi anggota American Society for Plant Biologists dan—ini lebih bergengsi baginya karena ia ahli genetika tanaman—American Association for Cancer Research.
Asosiasi peneliti kanker bukan perkumpulan ilmuwan biasa. Dokter bertitel PhD pun belum tentu bisa "membeli" kartu anggota asosiasi ini. Agar seseorang bisa menjadi anggota asosiasi ini, ia harus aktif meneliti penyakit kanker pada manusia. Ia juga harus membawa surat rekomendasi dari profesor yang lebih dulu aktif dalam riset itu serta tahu persis riset dan kontribusi orang itu di bidang kanker. Arief mendapatkan kartu itu karena, "Meskipun latar belakang saya adalah peneliti genome tanaman, saya banyak melakukan riset genetika mengenai kanker manusia," ujarnya.
4. Prof Dr. Khoirul Anwar : TERINSPIRASI KISAH FIRAUN
Dia kini menjadi ilmuwan top di Jepang.
Wong ndeso asal Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu memegang dua paten penting di bidang telekomunikasi. Dunia mengaguminya.
Para ilmuwan dunia berkhidmat ketika pada paten pertamanya Khoirul, bersama koleganya, merombak pakem soal efisiensi alat komunikasi seperti telepon seluler.
Prof Dr. Khoirul Anwar adalah pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) adalah seorang Warga Negara Indonesia yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang.Dunia memujinya.
Khoirul juga mendapat penghargaan bidang Kontribusi Keilmuan Luar Negeri oleh Konsulat Jenderal RI Osaka pada 2007.
Pada paten kedua, lagi-lagi Khoirul menawarkan sesuatu yang tak lazim. Untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi, dia menghilangkan sama sekali guard interval (GI). “Itu mustahil dilakukan,” begitu kata teman-teman penelitinya. Tanpa interval atau jarak, frekuensi akan bertabrakan tak keruan. Persis seperti di kelas saat semua orang bicara kencang secara bersamaan.
Dua penelitian istimewa itu mungkin tak lahir bila dulu Khoirul kecil tak terobsesi pada bangkai burung, balsam yang menusuk hidung, serta mumi Firaun. Bocah kecil itu begitu terinspirasi oleh kisah Firaun, yang badannya tetap utuh sampai sekarang. Dia pun ingin meniru melakukan teknologi “balsam” terhadap seekor burung kesayangannya yang telah mati. “Saya menggunakan balsam gosok yang ada di rumah,” kata anak kedua dari pasangan Sudjianto (almarhum) dengan Siti Patmi itu.
Khoirul berharap, dengan percobaannya itu, badan burung tersebut bisa awet dan mengeras. Dengan semangat, ia pun melumuri seluruh tubuh burung tersebut dengan balsam gosok. Sayangnya, hari demi hari berjalan, kata anak petani ini, “Teknologi balsam itu tidak pernah berhasil.”
Penelitian yang gagal total itu rupanya meletikkan gairah meneliti yang luar biasa pada Khoirul. Itulah yang mengantarkan alumnus Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut kini menjadi asisten profesor di JAIST, Jepang.
5. Dr Warsito P. Taruno : AKU PULANG, AKU BERJUANG, AKU MENANG
Dr Warsito P. Taruno, pendiri dan pemilik Edwar Technology.
Belasan Tahun belajar di luar negeri. Tanpa bantuan pemerintah, penelitian mereka berhasil di Tanah Air.
Robot itu bernama Sona CT x001. robot yang dibekali dua lengan itu sedang memindai tabung gas sepanjang 2 meter. Di bagian atas robot, layar laptop menampilkan grafik hasil pemindaian. Selasa dua pekan lalu itu, Sona—buatan Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology—sedang diuji coba. Alat ini sudah dipesan PT Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas bagi bus Transjakarta.
Perusahaan migas Petronas, kata Warsito, tertarik kepada alat buatannya. Kini mereka masih dalam tahap negosiasi harga dengan perusahaan raksasa milik pemerintah Malaysia tersebut. Selain Sona, Edwar Technology mendapat pesanan dari Departemen Energi Amerika Serikat. Nilai pesanan lumayan besar, US$ 1 juta atau sekitar Rp 10 miliar.
Bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun memakai teknologi pemindai atau Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) temuan Warsito.
ECVT adalah satu-satunya teknologi yang mampu melakukan pemindaian dari dalam dinding ke luar dinding seperti pada pesawat ulang-alik. Teknologi ECVT bermula dari tugas akhir Warsito ketika menjadi mahasiswa S-1 di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Shizuoka, Jepang, Tahun 1991. Ketika itu pria kelahiran Solo pada 1967 ini ingin membuat teknologi yang mampu “melihat” tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek yang opaque (tak tembus cahaya).
6. Sonja dan Shanti Sungkono: SI KEMBAR PENAKLUK BERLIN
Penampilan mereka memukau publik musisi klasik, dari Eropa hingga Amerika. Diganjar berbagai penghargaan internasional bergengsi.
Kepiawaian jari-jari mereka menari di atas tuts pianolah yang dikagumi penikmat musik klasik, baik di Jerman maupun di kota-kota besar lain di mancanegara.
Prestasi mereka pun patut dibanggakan. Mereka meraih Jerry Coppola Prize dalam lomba duet piano di Miami, Amerika Serikat, pada 1999. Dua Tahun berturutturut, 2001 dan 2002, mereka menyabet Prize Winners Juergen Sellheim Foundation di Hannover, Jerman. Lalu pada 2002 menjadi juara ketiga Torneo Internazionale di Musica di Italia. Terakhir, mereka menggondol Prize Winners pada National Piano Duo Competition di Saarbrucken, Jerman, pada 2003.
Album pertama mereka, Works for Two Pianos, dirilis pada 2002. Dua Tahun berselang, Sonja-Shanti menelurkan album kedua bertajuk 20th Century Piano Duets Collection. Kedua album berformat CD itu di bawah label NCA Jerman. Peredaran album kedua lebih luas dari yang pertama.
Selain di Jerman, album tersebut beredar di Prancis, Italia, Austria, Swedia, Jepang, dan Amerika. Kedua album itu juga mendapat apresiasi yang cukup antusias dari sejumlah media musik klasik di Eropa. Selain itu, kedua album tersebut masuk arsip Perpustakaan Musik Naxos—produser musik klasik dunia yang menyimpan sekitar 36 ribu album.
7. Johny Setiawan, Ph.D - PENEMU PLANET PERTAMA dan BINTANG MUDA
Johny Setiawan membuat mata dunia tercengang dengan penemuan planet pertama yang mengelilingi bintang Baru TW Hydrae.
PENEMUAN itu sangat spektakuler karena dari 270 planet di luar tata surya yang telah ditemukan astronom dalam 12 Tahun terakhir, tak satu pun planet yang muncul dari bintang muda.
Johny yang memimpin tim peneliti di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Heidelberg, Jerman itu menemukan planet pertama yang disebut TW Hydrae b dan bintang Baru TW Hydrae dengan menggunakan teleskop spektrograf F EROS sepanjang 2,2 meter di La Silla Observatory, Chile.
Dengan penemuan tim yang dipimpin Johny tersebut, peneliti dapat membuat kesimpulan penting tentang waktu pembentukan planet.Sejumlah pertanyaan pelik yang selama ini dihadapi peneliti, seperti bagaimana dan di mana sistem planet terbentuk?
Bagaimana arsitektur planet? Seberapa lama proses pembentukannya? Bagaimana posisi planet-planet seperti bumi di Galaksi Bima Sakti? Akan segera terjawab. Johny menyadari pentingnya penemuannya tersebut.
”Secara khusus saya bekerja di sejumlah proyek seperti ESPRI (Pencarian Planet dengan PRIMA/ Phase-Referenced Imaging and Micro-arcsecond Astrometry). Di sini saya menyeleksi dan mengamati karakteristik bintangbintang untuk program pencarian planet,”ungkapnya. Sejak 2003, Johny memimpin penelitian di observasi bintang dan planet ESO La Silla.
”Ini merupakan penemuan paling luar biasa dan spektakuler dalam studi planet-planet di luar tata surya.
Untuk pertama kali, kita telah menemukan langsung bahwa planet-planet terbentuk dalam lingkaran cakram. Penemuan TW Hydrae b membuka jalan untuk mengaitkan evaluasi lingkaran cakram dengan proses pembentukan dan migrasi planet,” papar Thomas Henning, direktur Planet and Star Formation Department di MPIA.
8. DR. Azhari Sastranegara - AHLI BENTURAN DARI MAJENE
Fujisawa-shi, Kanagawa, Jepang..
Doctor of engineering dari Tokyo Institute of Technology, Jepang, itu bergabung dengan produsen bearing dan komponen otomotif tersebut sejak April 2005. Awalnya ia berkarier sebagai research engineer di NSK Research and Development Center. “Tema penelitian saya cukup beragam, berkisar pada analisis struktur dan bahan terhadap benturan,” ujar Azhari.
Salah satu riset pria kelahiran Majene, Sulawesi Barat, itu adalah tentang desain kemudi kendaraan yang aman. Dalam penelitian itu, tugasnya melakukan perhitungan apakah rancangan kemudi yang diajukan oleh bagian desain sudah memenuhi syarat keamanan ketika terjadi tabrakan. Dari aneka penelitian itu, Azhari dan timnya di NSK menghasilkan enam paten yang kini terdaftar di Japan Patent Office.
NSK ternyata juga bukan tempat kerja pertamanya. Sebelumnya, Azhari—yang meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Effect of Transverse Impact on Energy Absorption of Column”—sempat menjadi asisten dosen di Tokyo Institute of Technology. Di kampus itu pula Azhari merampungkan pendidikan dari S-1 sampai S-3 (Ph.D).
Dia belajar di kampus itu setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, pada 1994. Modalnya: beasiswa Mitsui Bussan Indonesia Scholarship, Pada program S-3 (Ph.D), ia kembali mendapatkan beasiswa—kali ini dari Moritani Scholarship dan Tsuji Asia Scholarship.
Setelah memperoleh gelar doktor/Ph.D, Azhari sempat ingin kembali ke Tanah Air. Namun, ia tak mendapatkan tempat untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya.
Untuk ikut memajukan Indonesia, ia punya cara lain.
Source (blog-apa-aja.blogspot.com) : Inilah Orang Orang Terpintar Asal Indonesia Gan
PERSEKUTUAN REMAJA HKBP KOMPAS INDAH
Selamat datang di blogger resmi PERSEKUTUAN REMAJA HKBP KOMPAS, Semoga blog ini dapat bermanfaat bagi generasi muda.
Mengenai PERSEKUTUAN REMAJA HKBP KOMPAS
- PERSEKUTUAN REMAJA HKBP KOMPAS
- bekasi, jawa barat, Indonesia
- Blog ini adalah alat informasi mengenai kegiatan remaja, renungan, aktifitas dll
Selasa, 15 Maret 2011
10 Orang terpintar di Indonesia
Selasa, 15 Februari 2011
Penguasa Dunia Terbesar
Penguasa Dunia Terbesar
Inilah profil singkat para pengubah dunia yang memberikan pengaruh paling besar terhadap kehidupan di dunia. Urutan urutan ini berdasarkan versi forbes. Mari kita simak satu persatu…. dari urut pertama sampai kesepuluh:
# 1 Barack Obama – Presiden Amerika Serikat Umur: 48
Seberapa kuatkah orang yang satu ini? Forbes ternyata menilai dia dari segi kelebihannya dalam memimpin negara adidaya Amerika yang paling inovatif, ekonomi negara paling dinamis; negara terkaya, pemimpin militer yang mematikan; pada jarinya jua terletak kekuasaan untuk menekan tombol senjata nuklir yang terdapat lebih dari 5.000 hulu ledak; dia jua sebagai satu satunya kepala negara adidaya setelah Soviet tiada lagi. Disamping keberhasilannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini.
# 2 Hu Jintao – Presiden Republik China Umur: 66
Hu Jintao jelas berkedudukan sebagai pemimpin politik untuk jumlah orang terbanyak di planet bumi ini; bayangkan saja 1,3 miliar jumlah penduduk bumi hidup di China, sekitar 70% pekerja utama mereka berusia 15-64 tahun. Hu Jintao menerapkan system lokakarya untuk rakyatnya demi ongkos produksi yang paling murah demi mengubah bangsanya. Sepak terjangnya berhasil mengharumkan China dengan mengadakan even Olimpiade Beijing 2008 dengan sukses, dia membawa negeri China bergaya baru, modern, dan memiliki kehidupan penduduk yang harmonis; walau dalam kenyataan sering kali sangat berbeda terlihat dalam politik, agama, kebebasan pers; penindasan brutal di Tibet; serta penolakannya untuk mengakui kemerdekaan Taiwan. Namun, perkiraan para ekonom, negara China akan mampu mengambil alih dominasi ekonomi Amerika dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.
# 3 Vladimir Putin – Perdana Menteri Rusia Umur: 57
Perdana Menteri Vladimir Putin bisa jadi dikenal sebagai Tsar, Kaisar dan otokrat dari Rusia. Jauh lebih kuat posisinya daripada kepala negara, Presiden Dmitry Medvedev. Memimpin negara Rusia atas satu per sembilan dari luas daratan bumi, memiliki sumber energi dan sumber daya mineral yang berlimpah. Mantan perwira KGB ini tidak pernah takut dalam mengambil keputusan termasuk diantaranya menyerang Georgia, memotong pasokan gas alam ke Ukraina atau Eropa Barat. Memiliki hak veto masalah nuklir di Dewan Keamanan PBB. Dia seorang yang anti terhadap Obama. Salah satu pernyataan terkenalnya "Saya sangat yakin bahwa perubahan yang konstan bukan solusi untuk menjadi lebih baik."
# 4 Ben S. Bernanke – Ketua Sentral Bank Amerika Umur: 55
Ben S. Bernanke adalah mantan ketua Fakultas Ekonomi Universitas Princeton Amerika. Ia seorang sarjana ekonomi yang sukses mengarahkan perekonomian terbesar dunia melewati masa masa resesi besar, dan berhasil menumbuhkan ekonomi positif dalam menyeimbangkan neraca keuangan Amerika, dari $900 milyar pada bulan Agustus 2008 dan lebih dari $2.1 triliun saat ini. Saking suksesnya dengan kebijakan ekonominya tersebut, sehingga berhasil mengurangi angka deflasi, para ekonom Amerika menyebut gaya finansial yang diterapkan dengan Doktrin Bernanke. Pemerintah Amerika sendiri mempunyai tekhnologi press printing dimana mereka bisa dengan sesuka hati memproduksi uang kertas dolar sebanyak yang mereka butuhkan tanpa harus keluar biaya.
# 5 Sergey Brin dan Larry Page – Pendiri Google US Umur: 36
Jika pengetahuan adalah kekuatan, begitu juga halnya informasi. Dua orang jenius ini awalnya bertemu pada masa kuliah mereka di Stanford University. Mereka mengambil program Ph.D. ilmu komputer. Mereka sekarang mencoba untuk meletakkan semua informasi dunia di ujung jari Anda. Mereka terkenal sebagai penginovasi tekhnologi termuda, tercerdas dan terbaik serta berbakat. Lokasi kerja mereka saat ini ada di Mountain View, California, Kompleks mereka dinamakan "Googleplex" dimana setiap karyawan didorong untuk menghabiskan satu hari dalam seminggu pada proyek-proyek pribadi mereka; kantor mereka tak jarang disebut sebagai "Best Place To Work" di Amerika / tempat kerja terbaik. Para pendiri Google ini memiliki gabungan kekayaan bersih senilai $ 30.6 miliar yang menempatkan mereka pada urutan ketiga Forbes 400. Walaupun niat mereka “baik”, namun ternyata Google disalahkan oleh beberapa kalangan dunia pers karna andil mereka dalam menumbangkan / membuat bangkrut dunia pers tradisional. Sergey Brin mengatakan "Ada yang bilang Google adalah Dewa Penolong, yang lainnya mengatakan Google adalah setan."
# 6 Carlos Slim Helu – Chief executive Telmex Meksiko Umur: 69
Carlos Slim Helu adalah orang nomor tiga terkaya di dunia menurut versi Forbes. Dia mendominasi kekuatan ekonomi Meksiko, kekayaan pribadinya saja setara dengan sekitar 2% dari GDP Meksiko. Dia seorang pemain monopoli telekomunikasi: Telemex yang memiliki 90% dari Meksiko saluran telepon tetap; TelCel yang memiliki 90% pangsa pasar nirkabel. Dia juga ketua konglomerat Meksiko yang memiliki usaha untuk memperbaiki jalan-jalan, infrastruktur energi, suplai air.
# 7 Rupert Murdoch – Ketua News Corp US Umur: 78
Rupert Murdoch adalah seorang raja media. Kerajaan medianya termasuk di Inggris (The Times), Australia (The Australian), Amerika (The Wall Street Journal) surat kabar, selain tabloid-tabloid seperti New York Post dan The Sun (Inggris). Juga dia memegang kuasa atas perusahaan film (20th Century Fox), penerbitan buku (HarperCollins), televisi (Fox, BSkyB), online (MySpace). Di tahun fiskal 2009 ini, News Corp merugi sekitar $ 3,4 miliar, nilai sahamnya turun pada bulan Maret menjadi yang terendah, tetapi masih jauh di bawah tingkat 2007, ketika dia kehilangan $ 5,6 miliar pada Dow Jones. Ia menuduh Google mencuri konten; mengancam untuk memblokir mesin pencari untuk mengindeks situs Web-nya. Dia berkoar bahwa "jurnalisme yang berkualitas itu tidak murah."
#8 Michael T. Duke – Presiden, CEO dan Direktur Wal-Mart Stores, Inc US Umur: 59
Michael T. Duke memiliki usaha eceran /supermarket terbesar di dunia, perusahaannya memiliki tingkat omset $ 401 miliar penjualan dalam setahun, memiliki 2 juta karyawan, dan 8.000 supermarket. Wal-Mart sendiri adalah mitra dagang China ke 8 terbesar. perusahaan sektor swasta terbesar di Amerika Serikat; target favorit mereka adalah serikat pekerja; menyalahkan dan memuji untuk mendukung proposal Obama dalam perawatan kesehatan pekerja, menggeser kekuatan ekonomi dari produsen ke pengecer, dari ibu-dan-pop ke kotak besar. "Saya seorang yang kompetitif dengan alam dan saya ingin menang." ujarnya.
# 9 Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud – Raja Arab Saudi Umur: 85
Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud memiliki absolut kekuasaan kerajaan Arab Saudi yang mana negara ini sebagian besar adalah padang pasir terbesar di dunia, memiliki cadangan minyak mentah berlimpah, terdapat dua tempat paling suci dalam Islam. Negara ini memiliki perusahaan minyak Aramco perusahaan paling menguntungkan di Bumi, menghasilkan lebih dari $ 200 miliar per tahun, memiliki cadangan 260 miliar barel atau 25% dari pasokan di bumi.
# 10 William Gates III – Co-Chair Bill & Melinda Gates Foundation US Umur: 54
Orang terkaya di dunia, monopoli, mentransformasikan bisnis perangkat lunak. Lebih dari 85% ratusan juta pengguna komputer menggunakan produk perusahaannya. Tujuan hidupnya saat ini adalah untuk menyelamatkan dunia. Sekarang ia mencurahkan sehari-hari ke yayasan Bill & Melinda Gates, badan amal terbesar di Bumi dengan aset $ 34 milyar. Yayasan ini didirikan dengan tujuan untuk mengurangi kelaparan, meningkatkan pendidikan dan melawan penyakit seperti malaria, TBC dan AIDS.
Sumber: forbes.com
Inilah profil singkat para pengubah dunia yang memberikan pengaruh paling besar terhadap kehidupan di dunia. Urutan urutan ini berdasarkan versi forbes. Mari kita simak satu persatu…. dari urut pertama sampai kesepuluh:
# 1 Barack Obama – Presiden Amerika Serikat Umur: 48
Seberapa kuatkah orang yang satu ini? Forbes ternyata menilai dia dari segi kelebihannya dalam memimpin negara adidaya Amerika yang paling inovatif, ekonomi negara paling dinamis; negara terkaya, pemimpin militer yang mematikan; pada jarinya jua terletak kekuasaan untuk menekan tombol senjata nuklir yang terdapat lebih dari 5.000 hulu ledak; dia jua sebagai satu satunya kepala negara adidaya setelah Soviet tiada lagi. Disamping keberhasilannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini.
# 2 Hu Jintao – Presiden Republik China Umur: 66
Hu Jintao jelas berkedudukan sebagai pemimpin politik untuk jumlah orang terbanyak di planet bumi ini; bayangkan saja 1,3 miliar jumlah penduduk bumi hidup di China, sekitar 70% pekerja utama mereka berusia 15-64 tahun. Hu Jintao menerapkan system lokakarya untuk rakyatnya demi ongkos produksi yang paling murah demi mengubah bangsanya. Sepak terjangnya berhasil mengharumkan China dengan mengadakan even Olimpiade Beijing 2008 dengan sukses, dia membawa negeri China bergaya baru, modern, dan memiliki kehidupan penduduk yang harmonis; walau dalam kenyataan sering kali sangat berbeda terlihat dalam politik, agama, kebebasan pers; penindasan brutal di Tibet; serta penolakannya untuk mengakui kemerdekaan Taiwan. Namun, perkiraan para ekonom, negara China akan mampu mengambil alih dominasi ekonomi Amerika dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.
# 3 Vladimir Putin – Perdana Menteri Rusia Umur: 57
Perdana Menteri Vladimir Putin bisa jadi dikenal sebagai Tsar, Kaisar dan otokrat dari Rusia. Jauh lebih kuat posisinya daripada kepala negara, Presiden Dmitry Medvedev. Memimpin negara Rusia atas satu per sembilan dari luas daratan bumi, memiliki sumber energi dan sumber daya mineral yang berlimpah. Mantan perwira KGB ini tidak pernah takut dalam mengambil keputusan termasuk diantaranya menyerang Georgia, memotong pasokan gas alam ke Ukraina atau Eropa Barat. Memiliki hak veto masalah nuklir di Dewan Keamanan PBB. Dia seorang yang anti terhadap Obama. Salah satu pernyataan terkenalnya "Saya sangat yakin bahwa perubahan yang konstan bukan solusi untuk menjadi lebih baik."
# 4 Ben S. Bernanke – Ketua Sentral Bank Amerika Umur: 55
Ben S. Bernanke adalah mantan ketua Fakultas Ekonomi Universitas Princeton Amerika. Ia seorang sarjana ekonomi yang sukses mengarahkan perekonomian terbesar dunia melewati masa masa resesi besar, dan berhasil menumbuhkan ekonomi positif dalam menyeimbangkan neraca keuangan Amerika, dari $900 milyar pada bulan Agustus 2008 dan lebih dari $2.1 triliun saat ini. Saking suksesnya dengan kebijakan ekonominya tersebut, sehingga berhasil mengurangi angka deflasi, para ekonom Amerika menyebut gaya finansial yang diterapkan dengan Doktrin Bernanke. Pemerintah Amerika sendiri mempunyai tekhnologi press printing dimana mereka bisa dengan sesuka hati memproduksi uang kertas dolar sebanyak yang mereka butuhkan tanpa harus keluar biaya.
# 5 Sergey Brin dan Larry Page – Pendiri Google US Umur: 36
Jika pengetahuan adalah kekuatan, begitu juga halnya informasi. Dua orang jenius ini awalnya bertemu pada masa kuliah mereka di Stanford University. Mereka mengambil program Ph.D. ilmu komputer. Mereka sekarang mencoba untuk meletakkan semua informasi dunia di ujung jari Anda. Mereka terkenal sebagai penginovasi tekhnologi termuda, tercerdas dan terbaik serta berbakat. Lokasi kerja mereka saat ini ada di Mountain View, California, Kompleks mereka dinamakan "Googleplex" dimana setiap karyawan didorong untuk menghabiskan satu hari dalam seminggu pada proyek-proyek pribadi mereka; kantor mereka tak jarang disebut sebagai "Best Place To Work" di Amerika / tempat kerja terbaik. Para pendiri Google ini memiliki gabungan kekayaan bersih senilai $ 30.6 miliar yang menempatkan mereka pada urutan ketiga Forbes 400. Walaupun niat mereka “baik”, namun ternyata Google disalahkan oleh beberapa kalangan dunia pers karna andil mereka dalam menumbangkan / membuat bangkrut dunia pers tradisional. Sergey Brin mengatakan "Ada yang bilang Google adalah Dewa Penolong, yang lainnya mengatakan Google adalah setan."
# 6 Carlos Slim Helu – Chief executive Telmex Meksiko Umur: 69
Carlos Slim Helu adalah orang nomor tiga terkaya di dunia menurut versi Forbes. Dia mendominasi kekuatan ekonomi Meksiko, kekayaan pribadinya saja setara dengan sekitar 2% dari GDP Meksiko. Dia seorang pemain monopoli telekomunikasi: Telemex yang memiliki 90% dari Meksiko saluran telepon tetap; TelCel yang memiliki 90% pangsa pasar nirkabel. Dia juga ketua konglomerat Meksiko yang memiliki usaha untuk memperbaiki jalan-jalan, infrastruktur energi, suplai air.
# 7 Rupert Murdoch – Ketua News Corp US Umur: 78
Rupert Murdoch adalah seorang raja media. Kerajaan medianya termasuk di Inggris (The Times), Australia (The Australian), Amerika (The Wall Street Journal) surat kabar, selain tabloid-tabloid seperti New York Post dan The Sun (Inggris). Juga dia memegang kuasa atas perusahaan film (20th Century Fox), penerbitan buku (HarperCollins), televisi (Fox, BSkyB), online (MySpace). Di tahun fiskal 2009 ini, News Corp merugi sekitar $ 3,4 miliar, nilai sahamnya turun pada bulan Maret menjadi yang terendah, tetapi masih jauh di bawah tingkat 2007, ketika dia kehilangan $ 5,6 miliar pada Dow Jones. Ia menuduh Google mencuri konten; mengancam untuk memblokir mesin pencari untuk mengindeks situs Web-nya. Dia berkoar bahwa "jurnalisme yang berkualitas itu tidak murah."
#8 Michael T. Duke – Presiden, CEO dan Direktur Wal-Mart Stores, Inc US Umur: 59
Michael T. Duke memiliki usaha eceran /supermarket terbesar di dunia, perusahaannya memiliki tingkat omset $ 401 miliar penjualan dalam setahun, memiliki 2 juta karyawan, dan 8.000 supermarket. Wal-Mart sendiri adalah mitra dagang China ke 8 terbesar. perusahaan sektor swasta terbesar di Amerika Serikat; target favorit mereka adalah serikat pekerja; menyalahkan dan memuji untuk mendukung proposal Obama dalam perawatan kesehatan pekerja, menggeser kekuatan ekonomi dari produsen ke pengecer, dari ibu-dan-pop ke kotak besar. "Saya seorang yang kompetitif dengan alam dan saya ingin menang." ujarnya.
# 9 Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud – Raja Arab Saudi Umur: 85
Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud memiliki absolut kekuasaan kerajaan Arab Saudi yang mana negara ini sebagian besar adalah padang pasir terbesar di dunia, memiliki cadangan minyak mentah berlimpah, terdapat dua tempat paling suci dalam Islam. Negara ini memiliki perusahaan minyak Aramco perusahaan paling menguntungkan di Bumi, menghasilkan lebih dari $ 200 miliar per tahun, memiliki cadangan 260 miliar barel atau 25% dari pasokan di bumi.
# 10 William Gates III – Co-Chair Bill & Melinda Gates Foundation US Umur: 54
Orang terkaya di dunia, monopoli, mentransformasikan bisnis perangkat lunak. Lebih dari 85% ratusan juta pengguna komputer menggunakan produk perusahaannya. Tujuan hidupnya saat ini adalah untuk menyelamatkan dunia. Sekarang ia mencurahkan sehari-hari ke yayasan Bill & Melinda Gates, badan amal terbesar di Bumi dengan aset $ 34 milyar. Yayasan ini didirikan dengan tujuan untuk mengurangi kelaparan, meningkatkan pendidikan dan melawan penyakit seperti malaria, TBC dan AIDS.
Sumber: forbes.com
Selasa, 01 Februari 2011
Aturan - Aturan dalam Pemberian Ulos
Aturan - Aturan dalam Pemberian Ulos
Seperti telah kita terangkan terdahulu, ulos mempu¬nyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara Adat Batak. Tidak mungkin kita berbicara mengenai Adat Batak tanpa membicarakan ulos. Ulos, hiou, olis, abit godang atu uis kese¬muanya adalah merupakan identitas orang Batak.
Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada¬ prinsipnya pihak Hula-hula lah yang memberikan kepada par¬boru (dalam perkawinan). Sedangkan di wilayah Pakpak/Dairi dan Tapanuli Selatan pihak borulah yang memberikan ulos ke pada mora atau kula kula. Perbedaan spesifik ini bukanlah berarti mengurangi¬ nilai dan makna suatu ulos dalam upacara adat. Di wilayah Toba misalnya yang berhak memberikan ulos ialah:
1. Pihak Hula Hula (Mertua, Tulang, Bona Tulang, Bona ni ari dan Tulang rorobot).
2. Pihak Dongan Tubu (Ayah, Saudara ayah, Kakek dan saudara pengantin dalam kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).
3. Pihak pariban (dalam urutan lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).
Adapun mengenai ale-ale (teman sejawat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah di lu¬ar tohonan Dalihan Natolu. Pemberian ale-ale sebaiknya benda apapun itu, diberikan dalam bentuk kado (dibungkus).
Dari uraian di atas jelas kelihatan bahwa yang ber¬hak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari si pene¬rima ulos. Dalam pesta kawin misalnya tata urutan pemberian u¬adalah sebagai berikut:
1. Mula mula yang memberikan ulos adalah orangtua pengantin perempuan.
2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.
3. Kemudian menyusul pihak dongan sabutuha dari orangtua pengantin perempuan yang dalam hal ini dise¬but paidua (pamarai).
4. Kemudian disusul oleh pariban yaitu boru hula-hula (orang tua pengantin perempuan).
5. Baru yang terakhir adalah tulang pengantin la¬ki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari par anak, dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari¬ pihak par boru dan 1/3 dari par anak.
Bagian ini disampaikan oleh orangtua pengan¬tin perempuan kepada Tulang si anak (pengantin laki-laki) Inilah yang disebut “tintin marangkup”.
TATA CARA PEMBERIAN ULOS
Menurut tata cara Adat Batak setiap orang akan me¬nerima minimum 3 macam ulos dari mulai lahir sampai ak¬hir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsintu¬hu yang dapat digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan Natolu.
Ketiganya ialah:
• Yang pertama diterima sewaktu dia baru lahir. Sekarang ini dikenal dengan ulos parompa. Dahulu di¬kenal dengan ulos mangalo alo tondi.
• Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (perkawinan) yang diterima dalam bentuk ulos hela. Dahulu disebut ulos marjabu bagi kedua pengantin (laki dan perempuan).
• Yang ketiga adalah ulos yang diterimanya sewaktu dia meninggalkan dunia yang fana (ulos saput). Kedudukan seorang yang meninggal menentukan jenis ulos yang diterimanya sebagai saput, tergantung pada saat mana dia neninggal.
Bila seorang meninggal dalam usia yang masih muda atau meninggal tanpa meninggalkan keturunan (mate hadia¬ranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut “ulos ¬par olang-olangan”.
Bila dia meninggal dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil-kecil (sapsap mardum), bila laki-laki di sebut “matipul ulu”, bila perempuan disebut “marompas tataring” maka kepadanya diberi ulos saput.
Bila dia meninggal sari/saur matua maka dia men¬dapat “ulos panggabei” yang diterima dari semua hula-hu¬la baik hula-hulanya sendiri, hula-hula ni anak, maupun hula-hula cucunya. Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah berja¬lan ulos “JUGIA”. Sebagai catatan : maka sesuai dengan namanya “Ulos na so ra pipot” Ju¬gia hanya dapat diberikan kepada orang tua yang turunan¬nya belum ada yang meninggal (martilahu matua).
I. PADA WAKTU ANAK LAHIR
Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua, apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga.
Pada punt pertama, bila yang lahir tersebut adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping si anak, hanyalah orang tuanya saja (mar amani…).
Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar di samping si anak, juga ayah dan kakeknya (mar ama ni … dan Ompuni…).
Perlu diperhatikan pada gelar Ompu…Bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan si… maka gelar diperoleh itu diperoleh dari anak sulung perempuan (Ompung Bao).
Sedang bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar Ompu yang diterimanya berasal dari anak su¬lung laki-laki (Ompung suhut).
Untuk punt pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu ulos parompa untuk si anak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk si anak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri suri ganjang atau sito luntuho.
Untuk punt kedua hula hula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu ulos parompa untuk anak, ulos par gomgom untuk ayah dan ulos bulang bulang untuk ompungnya. Seiring dengan pemberian ulos kata kata ini sering diucapkan sbb:
“Ucok (Tatap). Sadarion nunga pinuka goarmu. Sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura jou jou on, hipas hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on. Horas ma”.
Catatan: Bila acara mampe goar ulos yang diberi¬kan harus dari jenis Bintang Maratur. Tapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh ulos mangiring.
Di hamu hela/boru nami. Mulai sadari on marbonsir naung pinungka goar ni buha baju muna, sadarion ¬mulai mampe goar hamu mar amani dohot mar ina ni….Dison pasahaton nami ma tu hamu ulos suri su¬ri ganjang, asa ganjang umurmu mamboan goar pang¬goari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon na¬mi :
“Tubu ma hariara, di atas ni tor na di ginjang, lehet ma i borotan ni horbo si opat pusoran. Mantak goar si jou jou on ma i, hipas jala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi mamboan.”
“Kakek/nenek: Di hamu Lae dohot ito. Dibagasan sa¬ darion ditonga ni jabu na marsangap na martua on, ima jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na ni luluan, tarida na ji¬nalahan. Mulai sadari on mampe goar do hamu Lae, Ito, mar Ompuni… ala marbonsir sian goar ni pa¬hompunta na ta pungka sadari on. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi-idup songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpama do¬henan nami di hamu:
Andor hadumpang ma togu togu ni lombu, Saur matua ma hamu Lae Ito, mambo an goar i huhut mangiring-iring pahompu.
Begitulah antara lain tata caranya dan mengenai ¬pepatah petitih biasanya terdiri dari 3 buah.
II. PADA WAKTU PERKAWINAN
Dalam upacara perkawinan maka pihak hula hula ha¬rus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu:
1. Ulos marjabu (hela dohot boru).
2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki.
3. Ulos pamarai diberikan kepada Saudara yang le¬bih tua dari Pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah.
4. Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengan¬tin laki-laki atau bila belum ada yang menikah kepada iboto ayahnya.
Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru di ampuan hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan ¬tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.
Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut ragi ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebagian dari sina¬mot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama Batak disebut:
“malo manapol - ingkon mananggal”
Umpasa ini mengandung pengertian orang Batak itu tidak mati terutang Adat. Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima golo goli dari ragi ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang¬ tidak sepatutnya (mar goli-goli) sehingga yang pantas dapat digantikan oleh undangan umum (ale-ale). Dengan da¬lih istilah ulos holong memberikan pula ulos kepada Pe¬ngantin. Padahal istilah ulos holong adalah di luar versi Dalihan Natolu.
Binanga ni Sihombing ma, binongkak di Tara¬bunga, Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua, sai sinur ma na pinahan, gabe na ni u1a.
Setelah diulosi kemudian dijemput sedikit beras (boras si pir ni tondi) ditaburkan baik kepada umum dengan mengucapkan “HORAS” tiga ka1i.
Kemudian menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki (wakilnya). Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos :
“Jongjong do hami dison lae, ito, pasahathon sada u1os na margoar ulos pansamot tu hamu siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sada rion. Jala laos on ma ito, lae ulos pargomgom asa mu1ai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaen mu”.
Songon nidok ni umpasa ma :
“manginsir ma sidohar, di uma ni Palipi, tu deak nama hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi. Andor hudumpang ma togu togu ni lombu, sai saur matua ma hamu, Lae-ito, huhut mangiring iring pahompu.
Songon panutup ito :
Sahat sahat ni solu ma sahat tu bonte¬an, nunga saut maksud dohot tahinta, sai sahat ma tu parhorasan, sahat panggabean.
Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos (si tot ni pansa) kepada pamarai dan simolohon. pemberian ulos ini biasa¬nya diwakilkan kepada suhut paidua. Setelah ulos ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang laki-laki di¬sebut ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian “tintin marangkup”.
III. ULOS PADA UPACARA KEMATIAN
Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberi¬kan pada seseorang ialah ulos yang diterimanya pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat kematian seseorang me¬nentukan jenis ulos yang dapat diterimanya. Jika seorang mati muda (mate hadiaranna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut ulos “parolang olangan dan biasanya dari jenis parompa. Bila seorang meninggal sesu¬dah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka ¬kepadanya diberikan ulos saput dan yang tinggal (balu, janda) diberikan ulos tujung. Sedang bila orang mati sari/saur matua maka kepadanya diberikan ulos “panggabei”.
Khusus tentang ulos Saput dan tujung perlu dite¬gaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bah¬wa tulang masih tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang ulos tujung diberikan oleh pihak Hula-Hula. Ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah. Tata Cara Pemberiannya :
Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga), ¬maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga maka setelah hula hula mendapat/mendengar kabar tentang ini, maka di¬sediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak Tulang menyediakan ulos saput.
Pada waktu pemberian saput dari Tulang:
“Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu songon saput ni dagingmu, ulos parpudi laho mnopot sambulom. Songon tanda do on na dohot hami mar habot ni roha di halalaom. Pabulus roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta patulus pardalanmu”.
Kemudian pihak Hula Hula memberikan tujung:
“Sadarion (ito, hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Beha bahenon (ito, hela), nunga songoni ¬huroha bagianmu, marbahir siubeonmu, sambor ni¬pim mabalu ho. Alani i unduk ma panailim marnida halak, patoru ma dirim marningot Tuhan. Songon ¬nidok ni umpasama dohonon nami” :
Hotang binebe bebe, hotang pinulos-pulos, Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.
Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan acara mengungkap tujung yang dilakukan oleh pihak Hula ¬Hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.
Hula-hula menyediakan beras dipiring, air bersih mencuci muka dari air putih satu gelas. Acara di¬buat pada waktu pagi (parnangkok ni mata ni ari). Kata-kata ini mengiringi acara tersebut :
“Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simanjujungmu. Asa ungkap na ari matiur, ungkap silas ¬ni roha tu hamu di joloanon, Husuapi ma (dainang/helangku) asa bolong sude ilu ilum, na mambahen¬ golap panailim”.
“Sai bagot na ma dungdung ma tu pilo-pilo na marajar, sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.
Dison muse nek sitio-tio inum (dainang, laengku) ma on, sai tio ma panggabean, tio parhorasan di hamu tu joloan on. Huhut dison boras si pir ni tondi, sai pir ma nang tondim ;
Martantan ma baringin, marurat jabi jabi, horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.
Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan di atas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya seluruh anak yang ditinggal si mati dicuci mukanya dan ditaburkan beras di atas ke¬palanya.
Dahulu kepada si pemberi ulos biasanya diberikan ¬piso piso sebagai panggarar adat. Sekarang ini sering¬diganti dengan uang.
MEMBERI ULOS PANGGABEI
Bila seorang orang tua yang sari/saur matua me¬ninggal dunia, maka seluruh hula hula akan memberi ulos yang disebut ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini ti¬dak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu dan cicit).
Kata kata berikut mengiringi pemberian ulos ter¬sebut :
“Di hamu pomparan ni Lae nami (Amang boru) on. Di son hupasahat hami tu hamu, sada ulos panggabei. Ulos on ulos panggabei, Sai mangulosi panggabean ma on, mangulosi parhorason, mangulosi daging do hot tondimu hamu sude pomparan ni Lae (amang bo¬ru) on. Horas ma dihita sude …”
Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula hula mulai dari hula hula, bona tulang, bona niari dan seluruh hula hula anaknya maupun hula hula cucunya.
Acara kematian untuk orang tua seperti ini mema¬kan waktu yang sangat lama dan biaya yang cukup besar.
Seperti telah kita terangkan terdahulu, ulos mempu¬nyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara Adat Batak. Tidak mungkin kita berbicara mengenai Adat Batak tanpa membicarakan ulos. Ulos, hiou, olis, abit godang atu uis kese¬muanya adalah merupakan identitas orang Batak.
Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada¬ prinsipnya pihak Hula-hula lah yang memberikan kepada par¬boru (dalam perkawinan). Sedangkan di wilayah Pakpak/Dairi dan Tapanuli Selatan pihak borulah yang memberikan ulos ke pada mora atau kula kula. Perbedaan spesifik ini bukanlah berarti mengurangi¬ nilai dan makna suatu ulos dalam upacara adat. Di wilayah Toba misalnya yang berhak memberikan ulos ialah:
1. Pihak Hula Hula (Mertua, Tulang, Bona Tulang, Bona ni ari dan Tulang rorobot).
2. Pihak Dongan Tubu (Ayah, Saudara ayah, Kakek dan saudara pengantin dalam kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).
3. Pihak pariban (dalam urutan lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).
Adapun mengenai ale-ale (teman sejawat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah di lu¬ar tohonan Dalihan Natolu. Pemberian ale-ale sebaiknya benda apapun itu, diberikan dalam bentuk kado (dibungkus).
Dari uraian di atas jelas kelihatan bahwa yang ber¬hak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari si pene¬rima ulos. Dalam pesta kawin misalnya tata urutan pemberian u¬adalah sebagai berikut:
1. Mula mula yang memberikan ulos adalah orangtua pengantin perempuan.
2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.
3. Kemudian menyusul pihak dongan sabutuha dari orangtua pengantin perempuan yang dalam hal ini dise¬but paidua (pamarai).
4. Kemudian disusul oleh pariban yaitu boru hula-hula (orang tua pengantin perempuan).
5. Baru yang terakhir adalah tulang pengantin la¬ki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari par anak, dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari¬ pihak par boru dan 1/3 dari par anak.
Bagian ini disampaikan oleh orangtua pengan¬tin perempuan kepada Tulang si anak (pengantin laki-laki) Inilah yang disebut “tintin marangkup”.
TATA CARA PEMBERIAN ULOS
Menurut tata cara Adat Batak setiap orang akan me¬nerima minimum 3 macam ulos dari mulai lahir sampai ak¬hir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsintu¬hu yang dapat digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan Natolu.
Ketiganya ialah:
• Yang pertama diterima sewaktu dia baru lahir. Sekarang ini dikenal dengan ulos parompa. Dahulu di¬kenal dengan ulos mangalo alo tondi.
• Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (perkawinan) yang diterima dalam bentuk ulos hela. Dahulu disebut ulos marjabu bagi kedua pengantin (laki dan perempuan).
• Yang ketiga adalah ulos yang diterimanya sewaktu dia meninggalkan dunia yang fana (ulos saput). Kedudukan seorang yang meninggal menentukan jenis ulos yang diterimanya sebagai saput, tergantung pada saat mana dia neninggal.
Bila seorang meninggal dalam usia yang masih muda atau meninggal tanpa meninggalkan keturunan (mate hadia¬ranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut “ulos ¬par olang-olangan”.
Bila dia meninggal dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil-kecil (sapsap mardum), bila laki-laki di sebut “matipul ulu”, bila perempuan disebut “marompas tataring” maka kepadanya diberi ulos saput.
Bila dia meninggal sari/saur matua maka dia men¬dapat “ulos panggabei” yang diterima dari semua hula-hu¬la baik hula-hulanya sendiri, hula-hula ni anak, maupun hula-hula cucunya. Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah berja¬lan ulos “JUGIA”. Sebagai catatan : maka sesuai dengan namanya “Ulos na so ra pipot” Ju¬gia hanya dapat diberikan kepada orang tua yang turunan¬nya belum ada yang meninggal (martilahu matua).
I. PADA WAKTU ANAK LAHIR
Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua, apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga.
Pada punt pertama, bila yang lahir tersebut adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping si anak, hanyalah orang tuanya saja (mar amani…).
Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar di samping si anak, juga ayah dan kakeknya (mar ama ni … dan Ompuni…).
Perlu diperhatikan pada gelar Ompu…Bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan si… maka gelar diperoleh itu diperoleh dari anak sulung perempuan (Ompung Bao).
Sedang bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar Ompu yang diterimanya berasal dari anak su¬lung laki-laki (Ompung suhut).
Untuk punt pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu ulos parompa untuk si anak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk si anak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri suri ganjang atau sito luntuho.
Untuk punt kedua hula hula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu ulos parompa untuk anak, ulos par gomgom untuk ayah dan ulos bulang bulang untuk ompungnya. Seiring dengan pemberian ulos kata kata ini sering diucapkan sbb:
“Ucok (Tatap). Sadarion nunga pinuka goarmu. Sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura jou jou on, hipas hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on. Horas ma”.
Catatan: Bila acara mampe goar ulos yang diberi¬kan harus dari jenis Bintang Maratur. Tapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh ulos mangiring.
Di hamu hela/boru nami. Mulai sadari on marbonsir naung pinungka goar ni buha baju muna, sadarion ¬mulai mampe goar hamu mar amani dohot mar ina ni….Dison pasahaton nami ma tu hamu ulos suri su¬ri ganjang, asa ganjang umurmu mamboan goar pang¬goari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon na¬mi :
“Tubu ma hariara, di atas ni tor na di ginjang, lehet ma i borotan ni horbo si opat pusoran. Mantak goar si jou jou on ma i, hipas jala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi mamboan.”
“Kakek/nenek: Di hamu Lae dohot ito. Dibagasan sa¬ darion ditonga ni jabu na marsangap na martua on, ima jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na ni luluan, tarida na ji¬nalahan. Mulai sadari on mampe goar do hamu Lae, Ito, mar Ompuni… ala marbonsir sian goar ni pa¬hompunta na ta pungka sadari on. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi-idup songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpama do¬henan nami di hamu:
Andor hadumpang ma togu togu ni lombu, Saur matua ma hamu Lae Ito, mambo an goar i huhut mangiring-iring pahompu.
Begitulah antara lain tata caranya dan mengenai ¬pepatah petitih biasanya terdiri dari 3 buah.
II. PADA WAKTU PERKAWINAN
Dalam upacara perkawinan maka pihak hula hula ha¬rus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu:
1. Ulos marjabu (hela dohot boru).
2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki.
3. Ulos pamarai diberikan kepada Saudara yang le¬bih tua dari Pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah.
4. Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengan¬tin laki-laki atau bila belum ada yang menikah kepada iboto ayahnya.
Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru di ampuan hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan ¬tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.
Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut ragi ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebagian dari sina¬mot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama Batak disebut:
“malo manapol - ingkon mananggal”
Umpasa ini mengandung pengertian orang Batak itu tidak mati terutang Adat. Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima golo goli dari ragi ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang¬ tidak sepatutnya (mar goli-goli) sehingga yang pantas dapat digantikan oleh undangan umum (ale-ale). Dengan da¬lih istilah ulos holong memberikan pula ulos kepada Pe¬ngantin. Padahal istilah ulos holong adalah di luar versi Dalihan Natolu.
Binanga ni Sihombing ma, binongkak di Tara¬bunga, Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua, sai sinur ma na pinahan, gabe na ni u1a.
Setelah diulosi kemudian dijemput sedikit beras (boras si pir ni tondi) ditaburkan baik kepada umum dengan mengucapkan “HORAS” tiga ka1i.
Kemudian menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki (wakilnya). Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos :
“Jongjong do hami dison lae, ito, pasahathon sada u1os na margoar ulos pansamot tu hamu siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sada rion. Jala laos on ma ito, lae ulos pargomgom asa mu1ai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaen mu”.
Songon nidok ni umpasa ma :
“manginsir ma sidohar, di uma ni Palipi, tu deak nama hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi. Andor hudumpang ma togu togu ni lombu, sai saur matua ma hamu, Lae-ito, huhut mangiring iring pahompu.
Songon panutup ito :
Sahat sahat ni solu ma sahat tu bonte¬an, nunga saut maksud dohot tahinta, sai sahat ma tu parhorasan, sahat panggabean.
Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos (si tot ni pansa) kepada pamarai dan simolohon. pemberian ulos ini biasa¬nya diwakilkan kepada suhut paidua. Setelah ulos ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang laki-laki di¬sebut ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian “tintin marangkup”.
III. ULOS PADA UPACARA KEMATIAN
Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberi¬kan pada seseorang ialah ulos yang diterimanya pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat kematian seseorang me¬nentukan jenis ulos yang dapat diterimanya. Jika seorang mati muda (mate hadiaranna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut ulos “parolang olangan dan biasanya dari jenis parompa. Bila seorang meninggal sesu¬dah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka ¬kepadanya diberikan ulos saput dan yang tinggal (balu, janda) diberikan ulos tujung. Sedang bila orang mati sari/saur matua maka kepadanya diberikan ulos “panggabei”.
Khusus tentang ulos Saput dan tujung perlu dite¬gaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bah¬wa tulang masih tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang ulos tujung diberikan oleh pihak Hula-Hula. Ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah. Tata Cara Pemberiannya :
Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga), ¬maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga maka setelah hula hula mendapat/mendengar kabar tentang ini, maka di¬sediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak Tulang menyediakan ulos saput.
Pada waktu pemberian saput dari Tulang:
“Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu songon saput ni dagingmu, ulos parpudi laho mnopot sambulom. Songon tanda do on na dohot hami mar habot ni roha di halalaom. Pabulus roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta patulus pardalanmu”.
Kemudian pihak Hula Hula memberikan tujung:
“Sadarion (ito, hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Beha bahenon (ito, hela), nunga songoni ¬huroha bagianmu, marbahir siubeonmu, sambor ni¬pim mabalu ho. Alani i unduk ma panailim marnida halak, patoru ma dirim marningot Tuhan. Songon ¬nidok ni umpasama dohonon nami” :
Hotang binebe bebe, hotang pinulos-pulos, Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.
Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan acara mengungkap tujung yang dilakukan oleh pihak Hula ¬Hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.
Hula-hula menyediakan beras dipiring, air bersih mencuci muka dari air putih satu gelas. Acara di¬buat pada waktu pagi (parnangkok ni mata ni ari). Kata-kata ini mengiringi acara tersebut :
“Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simanjujungmu. Asa ungkap na ari matiur, ungkap silas ¬ni roha tu hamu di joloanon, Husuapi ma (dainang/helangku) asa bolong sude ilu ilum, na mambahen¬ golap panailim”.
“Sai bagot na ma dungdung ma tu pilo-pilo na marajar, sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.
Dison muse nek sitio-tio inum (dainang, laengku) ma on, sai tio ma panggabean, tio parhorasan di hamu tu joloan on. Huhut dison boras si pir ni tondi, sai pir ma nang tondim ;
Martantan ma baringin, marurat jabi jabi, horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.
Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan di atas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya seluruh anak yang ditinggal si mati dicuci mukanya dan ditaburkan beras di atas ke¬palanya.
Dahulu kepada si pemberi ulos biasanya diberikan ¬piso piso sebagai panggarar adat. Sekarang ini sering¬diganti dengan uang.
MEMBERI ULOS PANGGABEI
Bila seorang orang tua yang sari/saur matua me¬ninggal dunia, maka seluruh hula hula akan memberi ulos yang disebut ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini ti¬dak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu dan cicit).
Kata kata berikut mengiringi pemberian ulos ter¬sebut :
“Di hamu pomparan ni Lae nami (Amang boru) on. Di son hupasahat hami tu hamu, sada ulos panggabei. Ulos on ulos panggabei, Sai mangulosi panggabean ma on, mangulosi parhorason, mangulosi daging do hot tondimu hamu sude pomparan ni Lae (amang bo¬ru) on. Horas ma dihita sude …”
Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula hula mulai dari hula hula, bona tulang, bona niari dan seluruh hula hula anaknya maupun hula hula cucunya.
Acara kematian untuk orang tua seperti ini mema¬kan waktu yang sangat lama dan biaya yang cukup besar.
Silsilah Si Raja Batak
Silsilah Si Raja Batak
SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :
A. GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
I. SI RAJA BIAK-BIAK
Pergi ke daerah Aceh.
II. TUAN SARIBURAJA.
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Si Boru Pareme menggoda abangnya Sariburaja, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest. Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk membunuh Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara. Tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.
Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.
Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si Raja Babiat. Di kemudian hari Si Raja Babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.
Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.
a. Si Raja Lontung
Nama-nama keturunannya:
1. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang: Lumban Pande, Lumaban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.
2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga.
Dari keturunan Sinaga, lahir marga-marga cabang: Simanjorang, Simandalahi, Barutu.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
Dari keturunan Pandiangan, lahir marga-marga cabang: Samosir, Gultom, Pakpahan, Sidari, Sitinjak, Harianja.
4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
Dari keturunan Nainggolan, lahir marga-marga cabang: Rumahombar, Parhusip, Batubara, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
Dari keturunan Simatupang lahir marga-marga cabang: Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
Dari keturunan Aritonang, lahir marga-marga cabang: Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
Dari keturunan Siregar, lahir marga-marga cabang: Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.
8. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
9. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
b. Si Raja Borbor
Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. Datu Dalu (Sahangmaima).
Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut : Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat, Tinendang, Tangkar, Matondang, Saruksuk, Tarihoran, Parapat, Rangkuti
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Simargolang.
III. Limbong Mulana
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu Palu Onggang dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.
IV. Sagala Raja
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.
V. Malau Raja
Malau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Malau. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. Pase Raja, keturunannya bermarga Pase.
b. Ambarita, keturunannya bermarga Ambarita.
c. Gurning, keturunannya bermarga Gurning.
d. Lambe Raja, keturunannya bermarga Lambe.
Salah seorang keturunan Malau Raja diberi nama Manik Raja, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga Manik.
VI. Si Boru Pareme
Kawin dengan Tuan Sariburaja.
VII. Si Boru Anting Sabungan
Kawin dengan Tuan Sorimangaraja.
VIII. Si Boru Biding Laut
Kawin dengan Tuan Sorimangaraja.
IX. Si Boru Nan Tinjo
Tidak kawin (Banci).
B.Raja Isombaon
Nama-nama keturunannya:
I. Tuan Sorimangaraja
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
a. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.
Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya Ompu Raja ni Ambaton, tapi kelamaaan orang terbiasa menyebutnya Nai Ambaton. Arti 'ambaton' ialah menghambat(menggembala) ternak, jadi Ompu ni Ambaton digelari demikian karena mempunyai banyak ternak.
Putra sulungnya ialah Simbolon, berlainan ibu dengan Munte, Saragi dan Tamba.
Mereka berselisih tentang siapa yang dianggap anak sulung, akibatnya Munte, Tamba dan Saragi pindah dari Pangururan ke Samosir Utara. Tamba tinggal di Tamba, Saragi di Saragi Tampak dan Munte di Tongging (ketiganya berada di tepi Danau Toba). Di kemudian hari perselisihan itu dapat diselesaikan, sehingga keturunan Saragi dan Munte ada sebagian menetap di Pangururan.
Keturunan Simbolon ada juga yang merantau ke Dairi dan Barus mudik, di daerah itulah terbentuk marga-marga baru seperti Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan, dan Nahampun. Marga Saragi didapati juga di daerah Simalungun, Karo dan Dairi. Keturunan Munte ada juga di daerah Dairi, Barus, Karo dan Tapanuli Selatan.
Marga-marga Dairi seperti, Gajah, Berasa, Bunurea, Beringin, Bacin, Berampu dan Pasi ialah masuk Nai Ambaton. Marga Ginting, di tanah karo juga masuk Nai Ambaton.
Nai Ambaton mempunyai 4 orang putra, yaitu :
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
Simbolon Tua mempunyai 7 orang anak, yaitu : Tuan Nahoda, Altong Nabegu, Pande Sahata, Panihai, Tuan Suhut Ni Huta, Raja Hapotan, Raja Sirimbang.
Dari keturunannya tersebut lahirlah marga-marga berikut : Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan, Berampu dan Pasi.
2. Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba.
Tamba Tua memiliki 3 orang anak, yaitu:
--Si Rumabolon
Dari keturunannya, lahirlah marga Tamba, Siallagan, dan Rea.
--Si Rumaganjang
Dari keturunannya, lahirlah marga Sidabutar, Sijabat, Siadari, dan Sidabalok.
--Si Rumahorbo
Dari keturunannya, lahirlah marga Rumahorbo.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
Saragi Tua memiliki 2 orang anak, yaitu:
--Ompu Tuan Binur
Dari keturunannya, lahirlah marga Simalango, Saing, Simarmata dan Nadeak.
--Ompu Partumpuan
Dari keturunannya, lahirlah marga Saragi dan Sidabungke.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Munte Tua memiliki 2 orang anak, yaitu:
--Sitanggang
Dari keturunannya, lahirlah marga Sitanggang dan Sigalingging
--Simanihuruk
Dari keturunannya, lahirlah marga Simanihuruk (Manihuruk), Sidauruk, Turnip, Sitio.
Marga Manik yang ada di Simsim (Dairi), Karo dan Singkil adalah keturunan Munte.
Tentang marga Dalimunte di Bila (Sumatera Timur), dan Padang Lawas tidak lain dari marga Munte (Naimunte-Daimunte-Dalimunte), mengenai perantauan turunan Munte ke Padang Lawas ialah melalui Asahan menyusur pantai laut.
Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai 2 orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging.
Simbolon Tua mempunyai 5 orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.
Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan Nai Ambaton.
Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.
Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (Mpu Bada) bermarga Gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut : Mpu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
Mpu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan Si Raja Batak dari Pusuk Buhit.
Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah Dairi. Keturunan Mpu Bada merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
Keturunan Mpu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.
b. Si Boru Biding Laut (Nai Ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Dijae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.
Nai Rasaon (Raja Mangarerak) adalah nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.
Raja Mangarerak mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Dari Raja Mardopang, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.
Sitorus memiliki marga-marga cabang, yaitu: Pane, Boltok, dan Dori.
2. Dari Raja Mangatur, menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung.
c. Si Boru Sanggul Haomasan (Nai Suanon).
Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Suanon (Tuan Sorbadibanua) adalah nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Tuan Sorbadibanua.
Tuan Sorbadibanua mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra,yaitu:
*Dari istri pertama (putri Sariburaja) :
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
Keturunan Si Bagot Ni Pohan melahirkan marga cabang berikut : Tampubolon, Barimbing, Silaen, Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution, Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi, Simagunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.
Tampubolon mempunyai putra-putra yang bernama Barimbing, Silaen, dan si kembar Lumban Atas dan Sibulele. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari Tampubolon (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).
Marga Simanjuntak terbagi 2, yaitu Horbojolo dan Horbopudi. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh).
2. Si Paet Tua.
Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga cabang berikut : Hutahaean, Hutajulu, Aruan, Sibarani, Sibuea, Sarumpaet, Pangaribuan, Hutapea.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
Keturunan Si Lahi Sabungan melahirkan marga cabang berikut : Sihaloho, Situngkir, Sipangkar, Sipayung, Sirumasondi, Rumasingap, Depari, Sidabutar, Sidabariba, Solia, Sidebang, Boliala, Pintubatu, Sigiro, Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.
4. Si Raja Oloan.
Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga cabang berikut : Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa, Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga, Manik, Bangkara, Sinambela, Dairi, Sihite, Sileang, Simanullang.
5. Si Raja Huta Lima.
Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga cabang berikut : Maha, Sambo, Pardosi, Sembiring, Meliala.
*Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
6. Si Raja Sumba.
Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga cabang berikut : Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro, Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.
7. Si Raja Sobu.
Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga cabang berikut : Sitompul, Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.
Panggabean memiliki marga cabang,yaitu: Simorangkir, Lumban Ratus, dan Lumban Siagian.
8. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.
Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga cabang berikut : Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan, Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.
Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja Huta Lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut :
"Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan"
artinya :
"Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji"
Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah :
a. Marbun dengan Sihotang.
b. Panjaitan dengan Manullang.
c. Tampubolon dengan Sitompul.
d. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.
e. Nahampun dengan Situmorang.
f. Panjaitan - Simanullang - Sinambela - Sibuea
***
CATATAN TAMBAHAN:
1. Marga-marga Panjaitan, Silitonga, Sianipar, Siagian, dan Pardosi tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama Tuan Dibangarna. Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga Tuan Dibangarna ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga Siagian dan Panjaitan, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.
2. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga Siagian, maka itu adalah Siagian yang termasuk Tuan Dibangarna, bukan Siagian yang merupakan marga cabang dari Siregar ataupun Lumban Siagian yang merupakan marga cabang dari Panggabean.
3. Marga Siregar, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut "Siregar Utara" sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut "Siregar Selatan".
4. Marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, Barasa, Nahampun, Tumanggor, Angkat, Bintang, Tinambunan, Tinendang, Barutu, Hutadiri, Mataniari, Padang, Sihotang, dan Solin juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).
5. Di suku Batak Pakpak (Dairi) :
a. Bunurea disebut juga Banurea.
b. Tumanggor disebut juga Tumangger.
c. Barutu disebut juga Berutu.
d. Hutadiri disebut juga Kudadiri.
e. Mataniari disebut juga Matahari.
f. Sihotang disebut juga Siketang.
6. Marga Sembiring Meliala juga terdapat di suku Batak Karo. Sembiring adalah marga induknya, sedangkan Meliala adalah salah satu marga cabangnya.
7. Marga Depari juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari Sembiring.
8. Bedakan :
a. Sitohang dengan Sihotang.
b. Siadari dengan Sidari.
c. Butar-butar dengan Sidabutar.
d. Saragi (Batak Toba) dengan Saragih (Batak Simalungun).
9. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga Limbong juga terdapat di suku Toraja.
10. Marga Purba juga terdapat di suku Batak Simalungun.
Diposkan oleh AKU CINTA INDONESIA
SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :
A. GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
I. SI RAJA BIAK-BIAK
Pergi ke daerah Aceh.
II. TUAN SARIBURAJA.
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Si Boru Pareme menggoda abangnya Sariburaja, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest. Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk membunuh Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara. Tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.
Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.
Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si Raja Babiat. Di kemudian hari Si Raja Babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.
Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.
a. Si Raja Lontung
Nama-nama keturunannya:
1. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang: Lumban Pande, Lumaban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.
2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga.
Dari keturunan Sinaga, lahir marga-marga cabang: Simanjorang, Simandalahi, Barutu.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
Dari keturunan Pandiangan, lahir marga-marga cabang: Samosir, Gultom, Pakpahan, Sidari, Sitinjak, Harianja.
4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
Dari keturunan Nainggolan, lahir marga-marga cabang: Rumahombar, Parhusip, Batubara, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
Dari keturunan Simatupang lahir marga-marga cabang: Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
Dari keturunan Aritonang, lahir marga-marga cabang: Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
Dari keturunan Siregar, lahir marga-marga cabang: Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.
8. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
9. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
b. Si Raja Borbor
Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. Datu Dalu (Sahangmaima).
Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut : Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat, Tinendang, Tangkar, Matondang, Saruksuk, Tarihoran, Parapat, Rangkuti
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Simargolang.
III. Limbong Mulana
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu Palu Onggang dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.
IV. Sagala Raja
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.
V. Malau Raja
Malau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Malau. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. Pase Raja, keturunannya bermarga Pase.
b. Ambarita, keturunannya bermarga Ambarita.
c. Gurning, keturunannya bermarga Gurning.
d. Lambe Raja, keturunannya bermarga Lambe.
Salah seorang keturunan Malau Raja diberi nama Manik Raja, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga Manik.
VI. Si Boru Pareme
Kawin dengan Tuan Sariburaja.
VII. Si Boru Anting Sabungan
Kawin dengan Tuan Sorimangaraja.
VIII. Si Boru Biding Laut
Kawin dengan Tuan Sorimangaraja.
IX. Si Boru Nan Tinjo
Tidak kawin (Banci).
B.Raja Isombaon
Nama-nama keturunannya:
I. Tuan Sorimangaraja
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
a. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.
Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya Ompu Raja ni Ambaton, tapi kelamaaan orang terbiasa menyebutnya Nai Ambaton. Arti 'ambaton' ialah menghambat(menggembala) ternak, jadi Ompu ni Ambaton digelari demikian karena mempunyai banyak ternak.
Putra sulungnya ialah Simbolon, berlainan ibu dengan Munte, Saragi dan Tamba.
Mereka berselisih tentang siapa yang dianggap anak sulung, akibatnya Munte, Tamba dan Saragi pindah dari Pangururan ke Samosir Utara. Tamba tinggal di Tamba, Saragi di Saragi Tampak dan Munte di Tongging (ketiganya berada di tepi Danau Toba). Di kemudian hari perselisihan itu dapat diselesaikan, sehingga keturunan Saragi dan Munte ada sebagian menetap di Pangururan.
Keturunan Simbolon ada juga yang merantau ke Dairi dan Barus mudik, di daerah itulah terbentuk marga-marga baru seperti Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan, dan Nahampun. Marga Saragi didapati juga di daerah Simalungun, Karo dan Dairi. Keturunan Munte ada juga di daerah Dairi, Barus, Karo dan Tapanuli Selatan.
Marga-marga Dairi seperti, Gajah, Berasa, Bunurea, Beringin, Bacin, Berampu dan Pasi ialah masuk Nai Ambaton. Marga Ginting, di tanah karo juga masuk Nai Ambaton.
Nai Ambaton mempunyai 4 orang putra, yaitu :
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
Simbolon Tua mempunyai 7 orang anak, yaitu : Tuan Nahoda, Altong Nabegu, Pande Sahata, Panihai, Tuan Suhut Ni Huta, Raja Hapotan, Raja Sirimbang.
Dari keturunannya tersebut lahirlah marga-marga berikut : Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan, Berampu dan Pasi.
2. Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba.
Tamba Tua memiliki 3 orang anak, yaitu:
--Si Rumabolon
Dari keturunannya, lahirlah marga Tamba, Siallagan, dan Rea.
--Si Rumaganjang
Dari keturunannya, lahirlah marga Sidabutar, Sijabat, Siadari, dan Sidabalok.
--Si Rumahorbo
Dari keturunannya, lahirlah marga Rumahorbo.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
Saragi Tua memiliki 2 orang anak, yaitu:
--Ompu Tuan Binur
Dari keturunannya, lahirlah marga Simalango, Saing, Simarmata dan Nadeak.
--Ompu Partumpuan
Dari keturunannya, lahirlah marga Saragi dan Sidabungke.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Munte Tua memiliki 2 orang anak, yaitu:
--Sitanggang
Dari keturunannya, lahirlah marga Sitanggang dan Sigalingging
--Simanihuruk
Dari keturunannya, lahirlah marga Simanihuruk (Manihuruk), Sidauruk, Turnip, Sitio.
Marga Manik yang ada di Simsim (Dairi), Karo dan Singkil adalah keturunan Munte.
Tentang marga Dalimunte di Bila (Sumatera Timur), dan Padang Lawas tidak lain dari marga Munte (Naimunte-Daimunte-Dalimunte), mengenai perantauan turunan Munte ke Padang Lawas ialah melalui Asahan menyusur pantai laut.
Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai 2 orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging.
Simbolon Tua mempunyai 5 orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.
Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan Nai Ambaton.
Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.
Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (Mpu Bada) bermarga Gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut : Mpu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
Mpu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan Si Raja Batak dari Pusuk Buhit.
Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah Dairi. Keturunan Mpu Bada merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
Keturunan Mpu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.
b. Si Boru Biding Laut (Nai Ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Dijae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.
Nai Rasaon (Raja Mangarerak) adalah nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.
Raja Mangarerak mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Dari Raja Mardopang, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.
Sitorus memiliki marga-marga cabang, yaitu: Pane, Boltok, dan Dori.
2. Dari Raja Mangatur, menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung.
c. Si Boru Sanggul Haomasan (Nai Suanon).
Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Suanon (Tuan Sorbadibanua) adalah nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Tuan Sorbadibanua.
Tuan Sorbadibanua mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra,yaitu:
*Dari istri pertama (putri Sariburaja) :
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
Keturunan Si Bagot Ni Pohan melahirkan marga cabang berikut : Tampubolon, Barimbing, Silaen, Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution, Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi, Simagunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.
Tampubolon mempunyai putra-putra yang bernama Barimbing, Silaen, dan si kembar Lumban Atas dan Sibulele. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari Tampubolon (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).
Marga Simanjuntak terbagi 2, yaitu Horbojolo dan Horbopudi. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh).
2. Si Paet Tua.
Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga cabang berikut : Hutahaean, Hutajulu, Aruan, Sibarani, Sibuea, Sarumpaet, Pangaribuan, Hutapea.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
Keturunan Si Lahi Sabungan melahirkan marga cabang berikut : Sihaloho, Situngkir, Sipangkar, Sipayung, Sirumasondi, Rumasingap, Depari, Sidabutar, Sidabariba, Solia, Sidebang, Boliala, Pintubatu, Sigiro, Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.
4. Si Raja Oloan.
Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga cabang berikut : Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa, Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga, Manik, Bangkara, Sinambela, Dairi, Sihite, Sileang, Simanullang.
5. Si Raja Huta Lima.
Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga cabang berikut : Maha, Sambo, Pardosi, Sembiring, Meliala.
*Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
6. Si Raja Sumba.
Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga cabang berikut : Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro, Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.
7. Si Raja Sobu.
Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga cabang berikut : Sitompul, Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.
Panggabean memiliki marga cabang,yaitu: Simorangkir, Lumban Ratus, dan Lumban Siagian.
8. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.
Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga cabang berikut : Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan, Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.
Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja Huta Lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
***
DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut :
"Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan"
artinya :
"Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji"
Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah :
a. Marbun dengan Sihotang.
b. Panjaitan dengan Manullang.
c. Tampubolon dengan Sitompul.
d. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.
e. Nahampun dengan Situmorang.
f. Panjaitan - Simanullang - Sinambela - Sibuea
***
CATATAN TAMBAHAN:
1. Marga-marga Panjaitan, Silitonga, Sianipar, Siagian, dan Pardosi tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama Tuan Dibangarna. Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga Tuan Dibangarna ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga Siagian dan Panjaitan, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.
2. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga Siagian, maka itu adalah Siagian yang termasuk Tuan Dibangarna, bukan Siagian yang merupakan marga cabang dari Siregar ataupun Lumban Siagian yang merupakan marga cabang dari Panggabean.
3. Marga Siregar, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut "Siregar Utara" sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut "Siregar Selatan".
4. Marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, Barasa, Nahampun, Tumanggor, Angkat, Bintang, Tinambunan, Tinendang, Barutu, Hutadiri, Mataniari, Padang, Sihotang, dan Solin juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).
5. Di suku Batak Pakpak (Dairi) :
a. Bunurea disebut juga Banurea.
b. Tumanggor disebut juga Tumangger.
c. Barutu disebut juga Berutu.
d. Hutadiri disebut juga Kudadiri.
e. Mataniari disebut juga Matahari.
f. Sihotang disebut juga Siketang.
6. Marga Sembiring Meliala juga terdapat di suku Batak Karo. Sembiring adalah marga induknya, sedangkan Meliala adalah salah satu marga cabangnya.
7. Marga Depari juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari Sembiring.
8. Bedakan :
a. Sitohang dengan Sihotang.
b. Siadari dengan Sidari.
c. Butar-butar dengan Sidabutar.
d. Saragi (Batak Toba) dengan Saragih (Batak Simalungun).
9. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga Limbong juga terdapat di suku Toraja.
10. Marga Purba juga terdapat di suku Batak Simalungun.
Diposkan oleh AKU CINTA INDONESIA
Macam - Macam Ulos Batak
Macam - Macam Ulos Batak
1.Ulos Jugia
Ulos ini disebut juga ulos na so ra pipot atau pinunsaan. Jenis ini menurut kepercayaan orang Batak tidak boleh dipakai kecuali oleh orang yang sudah saurmertua, yaitu semua anak laki-laki dan perempuan sudah menikah dan dari semua anaknya itu telah mempunyai cucu. Hanya orang yang demikianlah yang disebut na gabe yang berhak memakai ulos tersebut. Ulos ini sering merupakan barang warisan orangtua kepada anaknya dan nilainya sama dengan sitoppi (emas yang dipakai oleh istri raja-raja pada waktu pesta).
2.Ulos Ragidup
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan Ulos Ragiduplah yang paling tinggi nilainya karena dilihat dari bentuk, motif dan cara penenunannya yang sangat rapi, teratur dan dengan tingkat kesulitan pembuatan yang cukup tinggi yang berbeda dengan ulos lain pada umumnya. Ulos Ragidup dapat dipakai untuk berbagai keperluan, baik untuk acara suka maupun duka dan boleh dipergunakan oleh siapa saja baik itu Raja-raja adat, orang berada, maupun rakyat biasa selama memenuhi beberapa pedoman, misalnya diberikan sebagai Ulos Pargomgom pada acara adat perkawinan, atau diberikan sebagai Ulos Panggabei pada waktu orang tua meninggal yang telah mencapai satu tingkatan hagabeon tertentu.
3.Ulos Ragi Hotang
Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pangantin dan disebut Ulos Hela. Pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh seperti rotan (hotang). Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah disampirkan dari sebelah kanan pengantin laki-laki setinggi bahu terus sampai ke sebelah kiri pengantin perempuan. Ujung sebelah kanan dipegang oleh pengantin laki-laki dan ujung sebelah kiri dipegang oleh pengantin perempuan, lalu disatukan di tengah dada seperti terikat. Dahulu rotan dipergunakan sebagai tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Falsafah inilah yang dilambangkan oleh ulos Ragi Hotang tersebut.
4.Ulos Sadum (Sadom)
Ulos ini penuh dengan warna-warni yang ceria sehingga sangat cocok dipakai untuk suasana sukacita. Di Tapanuli Selatan misalnya ulos ini biasanya dipakai sebagai Ulos Panjangki (parompa) bagi keturunan “Daulat, Baginda atau Raja”. Untuk mengundang (marontang) Raja-raja, ulos ini dipakai sebagai alas sirih diatas pinggan godang (burangir/haronduk panyurduan). Aturan pemakaian ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan yang dilarang memakai ulos ini. Karena motifnya yang indah di daerah lain ulos ini sering diberikan sebagai kenang-kenangan atau dibuat sebagai hiasan dinding.
5.Ulos Runjat
Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau terpandang sebagai Ulos Edang-Edang (pada waktu pergi ke undangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Natolu di luar Hasuhoton Bolon, misalnya oleh Tulang, Pariban dan Pamarai. Ulos ini dapat diberikan pada waktu mengupa-upa atau waktu ulaon si las ni roha (acara gembira).
6.Ulos Sibolang
Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan suka dan duka. Untuk keperluan dukacita biasanya dipilih dari jenis warna hitam yang lebih menonjol, sedangkan untuk peristiwa sukacita dipilih jenis ulos dengan warna putih yang lebih menonjol. Ulos ini banyak dipergunakan orang untuk peristiwa dukacita. Misalnya untuk Ulos Saput atau Ulos Tajung harus dari jenis ulos ini dan tidak boleh dari jenis yang lain. Dalam upacara perkawinan, ulos ini biasa dipakai sebagai tutup ni ampang dan juga bisa disandang, akan tetapi harus dipilih dari jenis yang warna putihnya menonjol. Inilah yang disebut Sibolang Pamontari. Karena ulos ini dapat dipakai untuk segala keperluan adat, maka ulos ini terlihat paling banyak dipakai dalam upacara adat, sehingga dapat dikatakan lebih memasyarakat dengan harga yang relatif murah. Hanya saja ulos ini tidak lazim dipakai sebagai Ulos Pengupa atau Parompa.
7.Ulos Suri-Suri Ganjang
Ulos ini dinamai Ulos Suri-Suri Ganjang karena raginya berbentuk sisir memanjang. Ulos ini dapat diberikan sebagai Ulos Hela kepada pengantin baru. Dahulu ulos ini dipergunakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) ulos ini dipergunakan oleh pihak hula-hula untuk manggabei pihak borunya. Karena itu ulos ini sering disebut juga ulos sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini, yaitu karena panjangnya melebihi ulos biasa, sehingga bisa dipakai sebagai ampe-ampe, bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan maka akan terlihat si pemakai layaknya memakai 2 buah ulos.
8.Ulos Mangiring
Ulos ini mempunyai ragi yang saling beriringan yang melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Sering diberikan oleh orang tua sebagai Ulos Perompa kepada cucunya, agar seiring dengan pemberian ulos itu kelak akan lahir pula adik-adiknya sebagai temannya yang seiring dan sejalan. Sebagai pakaian sehari-hari ulos ini dapat dipakai sebagi tali-tali (detar) untuk laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung. Pada waktu upacara mampe goar ulos ini dapat pula dipakai sebagai bulang-bulang, diberikan oleh pihak hula-hula kepada menantunya.
9.Ulos Bintang Maratur
Raginya menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang ini menggambarkan orang yang patuh, rukun dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal sinandongan (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang. Semuanya berada pada tingkatan yang rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe) juga dapat dipakai sebagai tali-tali atau saong. Nilai dan fungsinya sama dengan ulos pengiring.
10.Ulos Sitoluntuho
Ulos ini biasanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat, kecuali bila diberikan kepada sebagi seorang anak yang baru lahir sebagai Ulos Parompa. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan yang dalam istilah adat dikatakan Ulos Panoropi yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada pihak boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntoho karena raginya berjejer tiga merupakan tuho atau tugal, yang biasanya dipakai untuk melubangi tanah untuk menanam benih.
11.Ulos Jungkit
Ulos jenis ini juga disebut Ulos na Nidongdang atau Ulos Purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para gadis dari keluarga Raja-raja yang merupakan hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga pada waktu menerima tamu pembesar atau upacara perkawinan. Dahulu purada atau permata ini dibawa oleh saudagar-saudagar dari India lewat pelabuhan Barus. Akan tetapi pada pertengahan abad XX permata tersebut tidak lagi diperdagangkan, maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara majungkit benang ulos tersebut.
12.Ulos Lobu-Lobu
Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Karenanya tidak pernah diperdagangkan atau disimpan diparmonang-monangan, itulah sebabnya orang jarang mengenal ulos ini. Bentuknya seperti kain sarung dan rambunya tidak boleh dipotong. Ulos ini juga disebut ulos “giun hinarharan”. Jaman dahulu para orang tua sering memberikan ulos ini kepada anaknya yang sedang mengandung (hamil tua). Tujuannya agar nantinya anak yang dikandung lahir dengan selamat.
13.Ulos Ragi Panei
14.Ulos Ragi Hatirongga
15.Ulos Ragi Ambasang
16.Ulos Ragi Sidosdos
17.Ulos Ragi Sampuborna
18.Ulos Ragi Siattar
19.Ulos Ragi Sapot
20.Ulos Ragi Siimput ni Hirik
21.Ulos Bolean
22.Ulos Padang Rusa
23.Ulos Simata
24.Ulos Happu
25.Ulos Tukku
26.dll.
1.Ulos Jugia
Ulos ini disebut juga ulos na so ra pipot atau pinunsaan. Jenis ini menurut kepercayaan orang Batak tidak boleh dipakai kecuali oleh orang yang sudah saurmertua, yaitu semua anak laki-laki dan perempuan sudah menikah dan dari semua anaknya itu telah mempunyai cucu. Hanya orang yang demikianlah yang disebut na gabe yang berhak memakai ulos tersebut. Ulos ini sering merupakan barang warisan orangtua kepada anaknya dan nilainya sama dengan sitoppi (emas yang dipakai oleh istri raja-raja pada waktu pesta).
2.Ulos Ragidup
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan Ulos Ragiduplah yang paling tinggi nilainya karena dilihat dari bentuk, motif dan cara penenunannya yang sangat rapi, teratur dan dengan tingkat kesulitan pembuatan yang cukup tinggi yang berbeda dengan ulos lain pada umumnya. Ulos Ragidup dapat dipakai untuk berbagai keperluan, baik untuk acara suka maupun duka dan boleh dipergunakan oleh siapa saja baik itu Raja-raja adat, orang berada, maupun rakyat biasa selama memenuhi beberapa pedoman, misalnya diberikan sebagai Ulos Pargomgom pada acara adat perkawinan, atau diberikan sebagai Ulos Panggabei pada waktu orang tua meninggal yang telah mencapai satu tingkatan hagabeon tertentu.
3.Ulos Ragi Hotang
Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pangantin dan disebut Ulos Hela. Pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh seperti rotan (hotang). Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah disampirkan dari sebelah kanan pengantin laki-laki setinggi bahu terus sampai ke sebelah kiri pengantin perempuan. Ujung sebelah kanan dipegang oleh pengantin laki-laki dan ujung sebelah kiri dipegang oleh pengantin perempuan, lalu disatukan di tengah dada seperti terikat. Dahulu rotan dipergunakan sebagai tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Falsafah inilah yang dilambangkan oleh ulos Ragi Hotang tersebut.
4.Ulos Sadum (Sadom)
Ulos ini penuh dengan warna-warni yang ceria sehingga sangat cocok dipakai untuk suasana sukacita. Di Tapanuli Selatan misalnya ulos ini biasanya dipakai sebagai Ulos Panjangki (parompa) bagi keturunan “Daulat, Baginda atau Raja”. Untuk mengundang (marontang) Raja-raja, ulos ini dipakai sebagai alas sirih diatas pinggan godang (burangir/haronduk panyurduan). Aturan pemakaian ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan yang dilarang memakai ulos ini. Karena motifnya yang indah di daerah lain ulos ini sering diberikan sebagai kenang-kenangan atau dibuat sebagai hiasan dinding.
5.Ulos Runjat
Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau terpandang sebagai Ulos Edang-Edang (pada waktu pergi ke undangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Natolu di luar Hasuhoton Bolon, misalnya oleh Tulang, Pariban dan Pamarai. Ulos ini dapat diberikan pada waktu mengupa-upa atau waktu ulaon si las ni roha (acara gembira).
6.Ulos Sibolang
Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan suka dan duka. Untuk keperluan dukacita biasanya dipilih dari jenis warna hitam yang lebih menonjol, sedangkan untuk peristiwa sukacita dipilih jenis ulos dengan warna putih yang lebih menonjol. Ulos ini banyak dipergunakan orang untuk peristiwa dukacita. Misalnya untuk Ulos Saput atau Ulos Tajung harus dari jenis ulos ini dan tidak boleh dari jenis yang lain. Dalam upacara perkawinan, ulos ini biasa dipakai sebagai tutup ni ampang dan juga bisa disandang, akan tetapi harus dipilih dari jenis yang warna putihnya menonjol. Inilah yang disebut Sibolang Pamontari. Karena ulos ini dapat dipakai untuk segala keperluan adat, maka ulos ini terlihat paling banyak dipakai dalam upacara adat, sehingga dapat dikatakan lebih memasyarakat dengan harga yang relatif murah. Hanya saja ulos ini tidak lazim dipakai sebagai Ulos Pengupa atau Parompa.
7.Ulos Suri-Suri Ganjang
Ulos ini dinamai Ulos Suri-Suri Ganjang karena raginya berbentuk sisir memanjang. Ulos ini dapat diberikan sebagai Ulos Hela kepada pengantin baru. Dahulu ulos ini dipergunakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) ulos ini dipergunakan oleh pihak hula-hula untuk manggabei pihak borunya. Karena itu ulos ini sering disebut juga ulos sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini, yaitu karena panjangnya melebihi ulos biasa, sehingga bisa dipakai sebagai ampe-ampe, bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan maka akan terlihat si pemakai layaknya memakai 2 buah ulos.
8.Ulos Mangiring
Ulos ini mempunyai ragi yang saling beriringan yang melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Sering diberikan oleh orang tua sebagai Ulos Perompa kepada cucunya, agar seiring dengan pemberian ulos itu kelak akan lahir pula adik-adiknya sebagai temannya yang seiring dan sejalan. Sebagai pakaian sehari-hari ulos ini dapat dipakai sebagi tali-tali (detar) untuk laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung. Pada waktu upacara mampe goar ulos ini dapat pula dipakai sebagai bulang-bulang, diberikan oleh pihak hula-hula kepada menantunya.
9.Ulos Bintang Maratur
Raginya menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang ini menggambarkan orang yang patuh, rukun dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal sinandongan (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang. Semuanya berada pada tingkatan yang rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe) juga dapat dipakai sebagai tali-tali atau saong. Nilai dan fungsinya sama dengan ulos pengiring.
10.Ulos Sitoluntuho
Ulos ini biasanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat, kecuali bila diberikan kepada sebagi seorang anak yang baru lahir sebagai Ulos Parompa. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan yang dalam istilah adat dikatakan Ulos Panoropi yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada pihak boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntoho karena raginya berjejer tiga merupakan tuho atau tugal, yang biasanya dipakai untuk melubangi tanah untuk menanam benih.
11.Ulos Jungkit
Ulos jenis ini juga disebut Ulos na Nidongdang atau Ulos Purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para gadis dari keluarga Raja-raja yang merupakan hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga pada waktu menerima tamu pembesar atau upacara perkawinan. Dahulu purada atau permata ini dibawa oleh saudagar-saudagar dari India lewat pelabuhan Barus. Akan tetapi pada pertengahan abad XX permata tersebut tidak lagi diperdagangkan, maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara majungkit benang ulos tersebut.
12.Ulos Lobu-Lobu
Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Karenanya tidak pernah diperdagangkan atau disimpan diparmonang-monangan, itulah sebabnya orang jarang mengenal ulos ini. Bentuknya seperti kain sarung dan rambunya tidak boleh dipotong. Ulos ini juga disebut ulos “giun hinarharan”. Jaman dahulu para orang tua sering memberikan ulos ini kepada anaknya yang sedang mengandung (hamil tua). Tujuannya agar nantinya anak yang dikandung lahir dengan selamat.
13.Ulos Ragi Panei
14.Ulos Ragi Hatirongga
15.Ulos Ragi Ambasang
16.Ulos Ragi Sidosdos
17.Ulos Ragi Sampuborna
18.Ulos Ragi Siattar
19.Ulos Ragi Sapot
20.Ulos Ragi Siimput ni Hirik
21.Ulos Bolean
22.Ulos Padang Rusa
23.Ulos Simata
24.Ulos Happu
25.Ulos Tukku
26.dll.
Mengendalikan Kemarahan
Senin, 31 Januari 2011
Mengendalikan Kemarahan
Nats : dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (Filipi 2:3)
Bacaan : Daniel 3:8-25
Raja Nebukadnezar, "dalam marahnya dan geramnya" memerintahkan agar Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dibawa menghadap kepadanya, sebab mereka tidak mau menyembah patung emas yang telah didirikannya (Daniel 3:13). Ketika kehendaknya tidak mereka taati, "meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah" terhadap ketiga orang itu (ayat 19).
Kita semua bergumul dengan kemarahan. Akan tetapi, kemarahan tidak selalu salah. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa" (Efesus 4:26). Kita semestinya marah saat melihat ketidakadilan di dunia. Namun, kebanyakan kemarahan kita, seperti Nebukadnezar, berasal dari niat yang kurang mulia, yaitu kepentingan diri sendiri dan keangkuhan. Apabila kita dikuasai oleh kemarahan, kita akan lepas kendali terhadap apa yang kita katakan dan lakukan. Paulus menantang kita, "[Janganlah] mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" (Filipi 2:3).
Jika kita mulai mendahulukan orang lain, kita akan tahu bahwa kita membuat langkah awal untuk mengendalikan kemarahan .
JIKA SESEORANG TIDAK DAPAT MENGENDALIKAN KEMARAHAN
IA AKAN MENYINGKAPKAN SISI TERBURUK DARI DIRINYA
Mengendalikan Kemarahan
Nats : dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (Filipi 2:3)
Bacaan : Daniel 3:8-25
Raja Nebukadnezar, "dalam marahnya dan geramnya" memerintahkan agar Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dibawa menghadap kepadanya, sebab mereka tidak mau menyembah patung emas yang telah didirikannya (Daniel 3:13). Ketika kehendaknya tidak mereka taati, "meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah" terhadap ketiga orang itu (ayat 19).
Kita semua bergumul dengan kemarahan. Akan tetapi, kemarahan tidak selalu salah. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa" (Efesus 4:26). Kita semestinya marah saat melihat ketidakadilan di dunia. Namun, kebanyakan kemarahan kita, seperti Nebukadnezar, berasal dari niat yang kurang mulia, yaitu kepentingan diri sendiri dan keangkuhan. Apabila kita dikuasai oleh kemarahan, kita akan lepas kendali terhadap apa yang kita katakan dan lakukan. Paulus menantang kita, "[Janganlah] mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" (Filipi 2:3).
Jika kita mulai mendahulukan orang lain, kita akan tahu bahwa kita membuat langkah awal untuk mengendalikan kemarahan .
JIKA SESEORANG TIDAK DAPAT MENGENDALIKAN KEMARAHAN
IA AKAN MENYINGKAPKAN SISI TERBURUK DARI DIRINYA
Minggu, 30 Januari 2011
Kehendak-Nya
Renungan, 27 Januari 2011
Topik : Kehendak-Nya
Nats : Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10)
Bacaan : Yohanes 10:7-11
Seorang pendaki gunung kawakan sedang membagikan pengalamannya kepada sekelompok pendaki pemula yang mempersiapkan pendakian pertama mereka. Orang itu telah menaklukkan puncak-puncak gunung yang paling ganas, sehingga ia dipercaya untuk memberikan nasihat. "Ingatlah," katanya, "tujuan pendakian adalah menikmati kegembiraan dan sukacita karena dapat mencapai ... puncak. Setiap langkah membawa kalian mendekati tujuan. Jika tujuan kalian hanyalah untuk menghindari kematian, pendakian kalian tidak akan maksimal."
Saya melihat bahwa nasihat itu berlaku pula dalam pengalaman hidup kristiani. Panggilan Yesus kepada kita untuk menjalani hidup kristiani bukan semata-mata untuk menghindari neraka. Tujuan kita bukanlah hidup dengan sedikit sukacita dan kepuasan, melainkan hidup yang penuh sukacita. Tujuan kita mengikut Kristus seharusnya tidak hanya untuk menghindari siksaan kekal. Jika itu motivasi utama kita, kita akan kehilangan keajaiban, sukacita, dan kemenangan setelah mendaki semakin tinggi dan tinggi bersama Yesus.
Tuhan menjanjikan kepada kita "hidup ... dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Kita tidak dapat mengalami hidup dalam kepenuhan dan kelimpahan jika hidup kita dipenuhi rasa takut. Saat kita berjalan dengan iman, maka setiap hari kita akan memandang kehidupan kristiani sebagai tantangan yang harus dihadapi dan satu langkah lagi menuju puncak kemenangan!
Janganlah hidup secara minimal. Hiduplah semaksimal mungkin! Dakilah gunung kehidupan dengan penuh percaya diri! --Dave Egner
KITA AKAN MENDAPATKAN AKHIR HIDUP YANG TERBAIK
JIKA KITA HIDUP BAGI KRISTUS
Topik : Kehendak-Nya
Nats : Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10)
Bacaan : Yohanes 10:7-11
Seorang pendaki gunung kawakan sedang membagikan pengalamannya kepada sekelompok pendaki pemula yang mempersiapkan pendakian pertama mereka. Orang itu telah menaklukkan puncak-puncak gunung yang paling ganas, sehingga ia dipercaya untuk memberikan nasihat. "Ingatlah," katanya, "tujuan pendakian adalah menikmati kegembiraan dan sukacita karena dapat mencapai ... puncak. Setiap langkah membawa kalian mendekati tujuan. Jika tujuan kalian hanyalah untuk menghindari kematian, pendakian kalian tidak akan maksimal."
Saya melihat bahwa nasihat itu berlaku pula dalam pengalaman hidup kristiani. Panggilan Yesus kepada kita untuk menjalani hidup kristiani bukan semata-mata untuk menghindari neraka. Tujuan kita bukanlah hidup dengan sedikit sukacita dan kepuasan, melainkan hidup yang penuh sukacita. Tujuan kita mengikut Kristus seharusnya tidak hanya untuk menghindari siksaan kekal. Jika itu motivasi utama kita, kita akan kehilangan keajaiban, sukacita, dan kemenangan setelah mendaki semakin tinggi dan tinggi bersama Yesus.
Tuhan menjanjikan kepada kita "hidup ... dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Kita tidak dapat mengalami hidup dalam kepenuhan dan kelimpahan jika hidup kita dipenuhi rasa takut. Saat kita berjalan dengan iman, maka setiap hari kita akan memandang kehidupan kristiani sebagai tantangan yang harus dihadapi dan satu langkah lagi menuju puncak kemenangan!
Janganlah hidup secara minimal. Hiduplah semaksimal mungkin! Dakilah gunung kehidupan dengan penuh percaya diri! --Dave Egner
KITA AKAN MENDAPATKAN AKHIR HIDUP YANG TERBAIK
JIKA KITA HIDUP BAGI KRISTUS
Rabu, 26 Januari 2011
Gadis Kecil dengan Seember Air
Gadis Kecil dengan Seember Air
Ada seorang janda miskin yang tinggal di satu pondok kecil yang hidup berseberangan dengan seorang Pendeta. Kesayangan utama janda miskin ini adalah bunga-bunga yang ditanam di depan rumahnya. Suatu hari janda miskin ini jatuh sakit, sehingga ia harus terbaring di tempat tidur untuk waktu yang cukup lama. Semua teman-teman dan tetangga-tetangganya datang untuk menunjukkan perhatian dan kebaikan hati mereka. Dari balik jendelanya, pak Pendeta dapat melihat siapa saja yang mengunjungi janda itu setiap hari, termasuk kunjungan dokter yang memeriksanya.Di sebelah rumah janda miskin ini tinggal juga seorang gadis kecil. Dia tidak terlihat mengunjungi janda miskin ini dan dia juga tidak menunjukkan perhatian secara menyolok kepada janda miskin ini. Tapi menjelang petang dia selalu datang membawa seember air dan mulai menyirami bunga-bunga milik janda miskin yang hampir layu karena teriknya sengatan matahari musim panas. Dia rajin melakukan hal ini sampai si janda miskin itu sembuh kembali.
Hari pertama janda miskin ini sembuh, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah melihat bunga kesayangannya. Wajahnya terlihat semakin cerah saat diketahuinya bahwa bunga-bunga miliknya tetap segar dan cerah. Pendeta ini tidak menyelidiki apakah janda miskin ini tahu siapa yang merawat bunga-bunganya. Namun pendeta ini melihat kasih dan perhatian yang diberikan gadis kecil ini. Setiap kali pendeta ini melihat gadis kecil ini, maka ingatannya melayang pada peristiwa itu dan dia percaya bahwa Tuhan juga turut menyaksikan peristiwa itu dan mencatatnya di Buku Besar-Nya.
Tidak masalah seberapa muda dan kecilnya engkau, engkau bisa mengasihi, menolong dan berbuat baik kepada semua orang. Sebagaimana Tuhan Yesus selalu menolong orang lain bahkan kepada mereka yang memusuhi Dia. Semoga puisi berikut ini bisa menjadi doamu:
"God make my life a little light
Within the world to glow
A little flame that burneth bright
Wherever I may go."
"Tuhan membuat hidupku menjadi seberkas sinar kecil
untuk memancarkan cahaya di dalam dunia
Seberkas api kecil yang menyala terang
kemanapun aku pergi."
"Tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, Ia akan menepati janji-Nya dan melakukan apa yang adil. Ia akan mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala perbuatan kita yang salah." (I Yohanes 1:9)
"Tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, Ia akan menepati janji-Nya dan melakukan apa yang adil. Ia akan mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala perbuatan kita yang salah."
(I Yohanes 1:9)
Untuk mengenal atau meniliai orang lain lebih mudah dari pada mengenal dan meniliai diri kita sendiri. Kita sangat gampang mengatakan bahwa si-A begini, si-B begini. Kita lebih gampang melihat sisi baik/buruknya orang lain. Menyatakan kesalahan orang lain itu sangatlah mudah ketimbang mengakui kesalahan kita sendiri. Jika kita ingin melihat diri kita sendiri maka kita perlu alat bantu yang kita sebut "CERMIN".
Mengakui bukan hanya sekedar kata tetapi juga harus di ikuti dengan perbuatan. Artinya .. jika kita telah mengakui kesalahan kita terhadap orang lain kita juga harus bisa merobah perilaku dari yang salah itu ke perilaku yang benar/baik. Maka kita bisa melihat siapa dan bagaimana kita di antara sesama kita dan dihadapan Tuhan.
Nas renungan kita hari ini sudah jelas menyatakan jika kita mau mengakui dosa-dosa kita maka Allah akan memberikan keadilan bagi kita. Allah akan mengampuni segala dosa kita dan membersihkan kita dari kesalahan yang telah kita perbuat. Artinya Allah mau memperbaharui kita menjadi manusia baru yang bersih dari segala dosa. Tetapi itu diberikan hanya kepada orang yang mau berubah dan mengakui kesalahannya kepada Allah. Bukan kepada orang yang pandai menilai kesalahan orang lain. Mari kita mengakui segala dosa dan kesalahn kita di hadapan Allah, karena Allah akan menepati janjiNya dan melakukan apa yang adil. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
REMAJA HKBP KOMPAS INDAH THN. 2011 PENDAHULUAN Puji syukur kepada Allah Bapa yang baik yang selalu me...
-
Macam - Macam Ulos Batak 1.Ulos Jugia Ulos ini disebut juga ulos na so ra pipot atau pinunsaan. Jenis ini menurut kepercayaan orang Batak ...